Thursday, December 24, 2009

Kau Hantarkan hati ini sampai Pulau Dewata



Bismillah

Tanganmu erat menggenggam Jemarinya, tak kan kau lepas sampai tiba di Pulau Dewata, kampung Halamanmu.

Senja sore menampilkan wajah aslinya, tak malu ia temani kalian tiba di Gilimanuk. Dua gelas Pop mie sebagai penangkal rasa lapar yang menggelayut sejak di pahala kencana. Bersama senja di Gilimanuk.

Plawa yang pertama dikenal, yang pertama disinggahi, dan kecupan manis terdampar di pipi sang bunda. ucapan salam pun telontarkan dari bibir mungilnya.

Bersama Senja Uluwatu kau genggam jemarinya kembali, Awan gelap menemani sepanjang perjalanan, bersama desiran ombak Tanah Lot kembali kau genggam jemarinya, Riakan Git-Git kau mainkan lensamu, dan lagi Sukowati kau mainkan lensamu kembali

Putih..

Indah ..

Ah Bli, Kau Hantarkan Hati ini sampai Pulau Dewata.



BALI, 28 Desember 2008

Saturday, December 19, 2009

Didepan Teras Rumahmu

Bismillah

Berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang, suara klakson seakan tak mao berhenti. berjalan terus berjalan tanpa henti melawan waktu yang semakin sempit. berjalan terus dengan hati yang terkoyak dan masih sedikit menyimpan harap hanya untuk menggenggam jemarinya.

Ular besi yang melaju dengan kencang menghantarkan hati yang sudah terkoyak menuju suatu tempat. keringat kembali mengucur deras di pelipis keningnya, kecemasan mulai menghantui sepanjang perjalanannya, jantungpun berdetak semakin keras, sungai beningpun mulai mengalir dipipi nya yang menawan. dan malam itu tak ada usapan hanya beberapa sorot mata yang memandangnya dengan keanehan.

perjalanan masih panjang, suara terdengar menggelegar di langit. tak ada cahaya bintang dan bulan pun tertutup awan gelap. kecemasan pun bertambah dengan ketakutan lagi dan lagi. Angin bertiup kencang tak lama hujan pun membasahi tanah, rasa dingin merasuk tulang jiwa, tak ada jemari yang menghangatkannya yah, jemari yang 180 hari lebih memberikan kehangatan padanya. tak ada hati yang menunggunya.. kini hanya hati yang terkoyak yang terlihat menyimpan sebuah harap kecil pada tubuh yang tegap.

Tiba ...

Resah, Cemas, Ketakutan, Sendiri, Dingin, Angin bertiup kencang ..

kemudian ..

dia berdiri di pintu gerbang yang sering dilewatinya tiap pekan, ia hapal .. disusurinya tiap jalan dengan kesabaran, memerhatikan disekelilingnya. Sunyi ... lagi lagi sunyi ..

tertutup .. rumput hijau itu masih terlihat segar, jalan itu masih sama seperti kemaren, selangpun masih menancap diujung kerannya, semuanya masih sama tak ada yang berubah.

malam semakin larut, semakin sunyi, hati yang terkoyak itu berdiri Di depan Teras Rumahmu. sekiranya tubuh tegap itu dapat melihat, ia tak akan berjalan di atas lukanya.

Hati yang terkoyak itu masih menunggu di depan teras rumahmu, Masih ...

Hati yang terkoyak itu adalah aku, Kekasihmu ..



Bogor, 21 July ...

Thursday, December 10, 2009

Hujan

Bismillah

Hujan ...
Melihat air hujan, masih teringat peristiwa setahun yang lalu. awan gelap dan hujan selalu menemani kita. what ?? Kita ..yaah itu dulu. Dulu dan dulu.

Awan diatas candi gedong songo begitu gelap, dan hujanpun turun dengan deras. tak sempat menepi, roda dua itupun terus melaju tanpa henti.
dan Tanah Lot yang begitu indah membuat kita tenggelam dalam keromantisan. air hujan, kabut, dingin, awan gelap.. ah smuanya saya ingat.

********

Turun hujan saat mendekati Pos I, berjalan terus dan terus tanpa henti. semua basah karena memang tak memakai jas hujan. Jalan yang begitu licin mempersulit kami untuk berjalan, sempat terpeleset alhamdulillah masih bisa membawa keril 35Lt
( Yaaaaaahhh 35Lt mah enteng kaleee buat ukuran wanita, )

Pacet..
Cuma satu yang saya takuti, yaitu Pacet sampe-sampe saya harus tengok kanan dan kiri juga belakang utk liat apa adakah yang menempel

Hujan nggak berhenti teruuuss saja membasahi tanah juga tubuh kami. 3 jam sudah kami menuruni jalan itu. akhirnya sampe juga di warung emmak..*ngelirik kesebelah*
Adzan mahgrib pun tiba, beberes secepatnya mengejar siular besi tak mungkin akhirnya naik si roda empat. berasa ada yang jalan pelan-pelan di ujung kaki.. Huaaaaaaaaaaa
paan tuh item kecoklatan nempel *gemeter*

Ternyata hujan membawamu pada ujung kakiku ...

setahun sudah peristiwa itu tejadi, kini harus di tutup pada agenda 2009

*menghitung hari untuk tutup buku*